Sabtu, 17 Oktober 2009

cara untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang terputus

Islam sangat melarang untuk memutus tali silaturahmi antar sesama muslim, Allah berfirman: “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-namaNya, kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi” (TQS.an-Nisa: 1)
Rasulullah pernah bersabda,”Tidak ada satu kebaikanpun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturahmi, dan tidak ada satu dosapun yang adzabnya lebih cepat diperoleh di dunia, disamping akan diperoleh di akherat, melebihi kezaliman dan memutuskan tali silaturahmi.”

Namun permasalahan antara sesama insan bisa saja terjadi yang berujung pada pertengkaran. Tetapi Islam Rahmatan lil ‘Alamin, yang dapat menyelesaikan beragam permasalahan manusia, sehingga harus tetap MENYELESAIKAN PERMASALAHAN DENGAN CARA YANG BAIK DAN BIJAK, kalo perlu pake Mediasi (Pihak lain yang membantu Menyelesaikan masalah) dan sebaiknya si mediator orang yang faham dengan agama dan memiliki karakter lembut tapi tegas & tutur kata yang enak didengar.

Ada beberapa cara untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang terputus, silakan pilih salah satu cara dibawah ini yang sesuai dengan SIKON dinda:

1. Keberanian untuk meminta maaf atau mendatangi untuk menyambung tali silaturahmi. Tingkat keberanian tergantung seberapa besar takutnya kita kepada Allah SWT.
Dari Abdullah bin Abi Aufa r.a. berkata, ketika sore hari pada hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, “Jika di majelis ini ada orang yang memutuskan silaturahmi, silahkan berdiri, jangan duduk bersama kami.” Dan ketika itu, diantara yang hadir hanya ada satu yang berdiri, dan itupun duduk di kejauhan. Dan dalam waktu yang tidak lama, ia kemudian duduk kembali.
Rasulullah bertanya kepadanya,”Karena diantara yang hadir hanya kamu yang berdiri, dan kemudian kamu datang dan duduk kembali, apa sesungguhnya yang terjadi? Ia kemudian berkata, “Begitu mendengar sabda Engkau, saya segera menemui bibi saya yang telah memutuskan silaturahmi dengan saya. Karena kedatangan saya tersebut, ia berkata, “Untuk apa kamu dating, tidak seperti biasanya kamu dating kemari.” Lalu saya menyampaikan apa yang telah Engkau sabdakan. Kemudian ia memintakan ampunan untuk saya, dan saya meminta ampunan untuknya (setelah kami berdamai, lalu saya datang lagi ke sini).
Lalu Rasulullah bersabda, “Kamu telah melakukan perbuatan yang baik, duduklah, rahmat Allah tidak akan turun ke atas suatu kaum jika di dalamnya ada orang yang memutuskan silaturahmi.”

2. Mengawali komunikasi baik dengan salam, senyum atau memberikan hadiah dan menghilangkan egoisme dalam diri untuk menyambung kembali tali silaturahmi.
Ibnu Abidin al-Hanafi mengatakan;”Menyambung silaturahmi wajib meskipun hanya dengan mengucapkan salam, memberi hadiah, memberi pertolongan, duduk bareng, ngobrol, bersikap ramah dan berbuat baik. Kalau seseorang yang hendak disilaturahmi berada di lain tempat cukup dengan berkirim surat, namun lebih afdol kalau ia bisa berkunjung ke tempat tinggalnya”.

3. Bersegera membuka pintu maaf apabila saudara dinda itu meminta maaf duluan walaupun itu dalam bentuk sinyal (tidak langsung).
Rasulullah pernah berkata pada sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq r.a bahwa tiga perkara berikut ini benar adanya. Pertama, barangsiapa yang dizalimi kemudian ia memaafkan, maka kemuliannya akan bertambah. Kedua, barangsiapa yang meminta-minta untuk meningkatkan hartanya, maka, hartanya akan berkurang. Ketiga, barangsiapa yang membuka pintu pemberian dan silaturahmi, maka hartanya kan bertambah.

4. Hindarilah rasa malu dalam menyambung tali silaturahmi. Jaim memang perlu tapi jangan kelewatan nanti malah jahannam yang didapat, maksudnya kalo karena jaim kita tetap bermusuhan dengan sesama muslim sampe akhirnya kita mati…, Nah lho!. Tapi kalo masih malu juga maka pakailah Perantara untuk awal komunikasi.

5. Kalo semua cara diatas tidak berhasil pake cara kasar…he.he.he… Maksudnya dengan cara ‘Berbohong’ dalam mendamaikan permusuhan dan ini sebaiknya kalo pake Mediasi atau Perantara, Islam membolehkan berbohong hanya dalam tiga hal, yaitu pada saat dalam berperang, mendamaikan permusuhan diantara manusia, dan dalam perkataan suami terhadap istrinya.
Hal ini terungkap dari hadits: “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah saw memberikan keringanan pada perkataan manusia kecuali dalam tiga perkara, yaitu pada saat perang, pada saat mendamaikan permusuhan di antara manusia dan dalam perkataan suami terhadap istrinya, serta perkataan istri terhadap suaminya.” (HR. Muslim).

Comments :

0 komentar to “cara untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang terputus”

Poskan Komentar

KIrimkan Komentar anda tentang Artikel Ini