Tampilkan postingan dengan label Berita Internasional Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Internasional Asia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2010

Aljazeera Tayangkan Film Dokumenter: Ketakutan Rezim & Meningkatnya Aktivitas Hizbut Tahrir di Asia Tengah

Saluran televisi satelit Aljazeera berbahasa Inggris dalam pekan ini dalam sebuah program acara People & Power menayangkan sebuah film dokumenter tentang ‘ekstrimisme agama’ di Asia Tengah. Film yang dibuat oleh Michael Anderson tersebut mengungkap kenyataan kepalsuan dari rezim diktator di Asia Tengah yang melakukan berbagai upaya untuk menghentikan gerakan Hizbut Tahrir.

Michael Anderson adalah seorang ilmuwan politik dan wartawan yang telah menghabiskan bertahun-tahun di Asia Tengah telah membuat sebuah film dokumenter yang menceritakan tentang situasi persoalan ekstrimisme di Asia Tegah.

Dalam wawancaranya kepada Ferghana.ru, Michael Anderson mengatakan bahwa selama bertahun-tahun, dirinya telah mengamati bagaimana para diktator di Asia Tengah telah menggunakan ‘ancaman’ ini dari apa yang disebut ‘ekstrimisme’ untuk menindas siapa pun yang tidak setuju dengan mereka. “Hanya dengan label mereka ‘ekstrimis’ atau ‘teroris’”, kata Anderson.

Menurutnya, para politisi Barat ‘membeli’ propaganda dari orang-orang seperti diktator Uzbekistan Islam Karimov. Itulah diantara alasan, Anderson memutuskan untuk membuat film yang berjudul “Mitos Ekstrimisme Agama di Asia Tengah”

Anderson mengatakan bahwa di Asia Tengah, sebelumnya ekstrimisme bukan ancaman, tetapi sekarang terjadi berkat orang-orang seperti Karimov. Pada tahun 1990-an, saat itu para pemimpin di Asia Tengah mulai memperingatkan terhadap apa yang disebut ‘ekstrimisme’ dan ‘radikalisme’, dan ancaman itu sangat terbatas.

Tetapi, Karimov dan kawan-kawannya telah menggunakan citra ekstrimisme Islam untuk menakut-nakuti penduduk lokal agar tunduk, seperti ‘hanya aku yang dapat melindungi Anda terhadap teroris Islam yang berbahaya ini’ sehingga atas nama stabilitas, demokrasi harus menunggu, katanya.

Anderson mengemukakan, Karimov seolah menambahkan pernyataanya ‘dan siapa pun yang berani mengkritik saya adalah seorang pengkhianat atau ekstrimis dan akan dilemparkan ke dalam penjada, disiksa, dll’.

Apa yang Terjadi Hari ini?

Hari ini, menurut Anderson, sebagai akibat langsung dari penindasan rezim dan mereka gagal dalam kebijakan sosial dan ekonomi, ancaman dari ekstrimisme tersebut semakin meningkat. Rezim telah mengubah nubuat mereka ke dalam kebenaran.

“Seperti banyak pakar analisis telah menujukkan, organisasi seperti Hizbut Tahrir memperoleh lebih banyak anggota sepanjang waktu. Dan lebih penting lagi, masih lebih banyak orang yang bersimpati dengan apa yang mereka usulkan, walaupun mereka bukan anggota dari organisasi ini,” kata Anderson kepada Ferghana.ru.

Ia memberikan penekanan, “Tapi, dan ini sangat penting, sekalipun rekayasa primitif oleh para rezim di Asia Tengah, tak seorang pun pernah membuktikan bahwa Hizbut Tahrir telah benar-benar menggunakan kekerasan.

Dalam film dokumentar garapannya, Duta Besar OSCE Bishkek, Andrew Tesoriere, mengakatan kepadanya, “hak-hak orang dalam tahanan, bahkan walaupun orang-orang tersebut diduga terorisme, harus dihormati. Jika Anda tidak melakukan hal tersebut, Anda akan memperbanyak masalah ekstrimisme dan bahkan terorisme”

Terkait tragedi Andijan, ia memberikan komentar, “Secara pribadi saya berpikir bahwa peristiwa Andijan pada 2005, dan sejumlah kecil demonstrasi dan penembakkan di Asia Tengah selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa semakin banyak orang memang merasa terdong ke ekstrim.”

“Dan ketika Anda melihat apa yang para rezim di Asia Tengah lakukan kepada masyarakat, dapatkan Anda menyalahkan mereka?” katanya.

Kesan Terbesar: ‘Para Pahlawan

Dalam pembuatan film dokumenternya itu, Anderson mengaku sangat berkesan terhadap para ‘pahlawan’ yang berani seperti para pembela hak asasi manusia, para pengacara, dan wartawan yang terus bertahan menghadapi rezim brutal tersebut. Padahal, rezim korum sering membahayakan kehidupan mereka, seperti yang terlihat hampir setiap pekan.

“Kesan saya yang lain adalah bahwa kemanusian dan keluarga diperlakukan sangat brutal oleh rezim. Orang-orang bersalah dilemparkan ke dalam penjara selama 20 tahun untuk kejahatan yang semua orang tahu mereka tidak melakukannya, tanpa pengadilan yang layak, bahkan tanpa akses pengacara. Atau kebrutalan polisi, penyiksaan, atau…. Ini adalah kehidupan sehari-hari bagi ribuan orang tak berdosa di daerah tersebut,” katanya.

“Ya, situasi yang terburuk di Uzbekistan, tetapi jelas, bahwa para pemimpin yang lainnya kini semakin mengambil ‘cara Uzbek’,” tambahnya lagi.

Film yang diproduksi oleh Mulberry Media tersebut dapat disaksikan oleh seluruh kaum Muslim di seantero dunia di saluran televisi Al-Jazeera bahasa Inggris, mulai hari Rabu hingga Ahad pada acara People & Power, Kamis: 08.30/21.00/02.30 WIB, Jumat: 23.30 WIB, Sabtu: 10.30/03.00 WIB, dan Ahad: 12.30 WIB.

»»  read more

Senin, 26 Oktober 2009

Ikuti Keinginan Amerika, Rezim Diktator Bangladesh Mulai Menangkapi Para Penyeru Khilafah

Syabab.Com - Perlawanan dakwah, seperti penganiayaan, propaganda negatif dan pemboikotan, telah menimpa Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Perlawanan atas dakwah mulai juga dirasakan oleh para pengemban dakwah di Bangladesh. Penangkapan terhadap para aktivis dakwah mulai terjadi, beberapa hari setelah rezim diktator Bangladesh melarang kelompok Islam, Hizbut Tahrir karena keaktifannya menantang campur tangan asing di negeri tersebut.

Baru-baru ini dikabarkan kepala koordinator dan juru bicara partai ini Mohiuddin Ahmad telah ditangkap. Dia adalah seorang dosen di Institute of Business Administration (IBA) Dhaka. Mohiuddin saat ini berada di bawah pengawasan ketat aparat rezim diktator Bangladesh. Polisi mengepung kediamannya di Jalan Hijau di Dhaka.

Sementara itu, polisi rezim sekular Bangladesh pada hari Ahad telah menyita peralatan dan bahan-bahan kantor pusat Hizbut Tahrir di Dhaka.

Komisaris Deputi Kepolisian Mahid Uddin mengatakan kepada wartawan, "Dokumen-dokumen yang disita dari kantor menunjukkan bahwa mereka sangat terorganisir."

"Kami juga menyita beberapa buku tentang hukum dari kantor. Sepertinya mereka mempelajir subjek."

Pemerintah Bangladesh melarang Hizbut Tahrir untuk beroperasi di negara tersebut Kamis lalu dan menuduh kelompok tersebut mengancam keamanan nasional. Namun, tuduhan ini dibantah oleh pimpinan Hizbut Tahrir setempat dan mengatakan bahwa larangan atas Hizbut Tahrir karena keaktifannya mengungkap persekongkolan pemerintah dengan asing.

Setelah pengumuman pelarangan itu, pihak kepolisian juga menghentikan konferensi pers yang digelar oleh pimpinan Hizbut Tahrir pada hari berikutnya.
Polisi melakukan penggerebekkan ke kantor pusat di Purana Paltan mulai siang hari hingga sore, Ahad, 25/10/09.

"Bahan-bahan yang sedang disita dari kantor pusat Hizbut Tahrir itu dengan izin pengadilan," kata petugas kepolisian Palta, Mujibr Rahman.

Sebuah komputer, buku, poster, file, lemari, kamera video disita dalam penggerebekan tersebut. Tetapi hard disk dalam komputer tidak ditemukan, kata polisi.

"Organisasi telah dilarang di sejumlah negara, termasuk Turki, karena keterlibatan mereka dengan kegiatan teroris," tuduhan pejabat negara tersebut, Sobhan Sikder Abdus, setelah mengeluarkan larangan pada hari Kamis.

Tentu saja, tuduhan tersebut tak berdasar dan terlalu dipaksakan. Siapa pun tahu, gerakan ini tak pernah menggunakan kekerasan dalam perjuangannya untuk menerapakan Islam sebagai solusi tuntas atas persoalan yang menimpa dunia hari ini.

"Kami juga telah memantau kegiatan mereka untuk waktu yang lama. Sepertinya kegiatan organisasi ini mengancam keamanan nasional," kata Sikder.

Hizbut Tahrir adalah organisasi militan kelima yang dilarang di Bangladesh, menurut sekretaris rumah.

Mohiuddin Ahmed, koordinator dan juru bicara Hizbut Tahrir di Bangladesh, dan asiasi professor dari Institute of Business Administration (IBA), menegaskan setelah pelarangan, "Pemerintah telah melarang kami karena kami memiliki bukti bahwa pemerintah sendiri memiliki campur tangan dalam pemberontakan 25-26 Februari lalu," [baca: Alih-alih Menangkap Pemberontak Sadis, Penguasa Bangladesh Malah Sibuk Menahan Para Aktivis HT]

Hizbut Tahrir merupakan sebuah partai politik Islam ideologis yang didirikan oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani di Al-Quds Palestina pada tahun 1953. Partai yang aktif di lebih 40 negara ini bertujuan untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan metode penegakkan Khilafah Rasyidah.

Dalam perjuangannya gerakan ini tidak pernah menggunakan kekerasan, tetapi selalu mengedepankan seruan intelektual. Namun, beberapa penguasa korup yang tak mampu menghadapi ajakak debat intelektual kelompok melakukan tindakan yang tidak intelek untuk menghentikan seruan kelompok tersebut [baca: Melarang Hizbut Tahrir: Bentuk Kekalahan Intelektual Rezim Bangladesh Menghadapi Para Pejuang Khilafah].

Semoga Allah Swt. menguatkan iman para pemuda pengemban dakwah di negeri tersebut, dan semoga Khilafah Rasyidah segera berdiri tegak, yang pada saat itulah akan Khilafah akan mengadili para penguasa zhalim atas tindakannya yang telah menyengsarakan rakyatnya. Insya Allah tidak akan lama lagi. [f/z/m/bdnews/syabab.com]

»»  read more

Minggu, 18 Oktober 2009

Negara-Negara NATO Membayar “Royalti” Kepada Taliban

Surat kabar as-Safir mengutip dari surat kabar Inggris The Times yang melaporkan berita berikut ini: Surat kabar Inggris The Times, kemarin, menempatkan tentara Italia bersama dengan pemerintahnya sebagai pesakitan, setelah surat kabar tersebut mengutip dari pejabat tinggi militer yang mengatakan bahwa Italia telah membayar sejumlah uang kepada para pemimpin Taliban, dan para panglima perang di Afghanistan untuk tidak melancarkan berbagai serangan terhadap tentara mereka, tanpa sepengetahuan sekutu, yang menyebabkan kematian tentara Prancis, namun hal ini ditolak oleh Roma dan NATO, sedang pejabat senior Afghanistan kembali menegaskannya.

Surat kabar tersebut melaporkan bahwa aparat intelijen Italia telah membayar puluhan ribu dolar kepada para milisi untuk tetap menjaga ketenangan di wilayah Sarobi, di provinsi Paktika sebelah timur Kabul, dimana di wilayah itulah tentara Italia ditempatkan.

Surat kabar tersebut menambahkan bahwa pasukan Prancis telah menguasai wilayah dalam paruh pertama tahun 2008, dan pasukan Prancis tidak tahu apa-apa tentang jumlah yang diklaimkan, sehingga mereka membawa sedikit amunisi, karena mereka mengira bahwa mereka berada di daerah yang tidak berbahaya, namun akhirnya mereka dikejutkan oleh penyergapan yang menewaskan 10 tentara Prancis.

Termasuk apa yang telah dikutip oleh surat kabar Inggris tersebut dari sumber-sumber pejabat tinggi intelijen Barat, yang menilai tindakan Italia sebagai “aib yang telanjang”. Seorang pejabat tinggi senior Afghanistan mengatakan kepada kantor berita France Presse bahwa “tidak sedikit negara-negara NATO” yang telah membayar sejumlah uang kepada kelompok pemberontak untuk menghindari berbagai serangan kepada pasukannya. Dikatakan bahwa masalah ini sudah beredar luas dalam skala besar, namun tidak di barisan Inggris dan Amerika. Karena itu, juru bicara NATO mengatakan: “Kami tidak akan membayar suap…, dan kami tidak akan mendanai para pemberontak.”

*****
Hari demi hari tersingkap realitas negara-negara Barat; dan tersingkap pula fakta adanya kesulitan dan kesempitan yang ditemuinya, sehingga membuatnya terkapar di Afghanistan, dan tenggelam dalam lumpur mulai dari ujung kaki hingga kepala. Berita tersebut memperlihatkan fakta bahwa pasukan Barat, walaupun memiliki senjata canggih, terbaru, dan termodern, serta menguasai teknik perang dengan baik, namun di belakang kecanggihan itu bersembunyi orang-orang yang telah hilang semangat dan kekuatannya, serta negara-negara dari kertas yang tidak lagi memiliki cukup tenaga dan kekuatan untuk berdiri di depan sejumlah kaum Muslim di sana-sini. Sebab, belum pernah terukir sejarah tentang negara-negara pendudukan dan penjajah yang justru membayar sejumlah uang, fidyah (tebusan), atau “royalti” untuk orang-orang yang wilayahnya mereka duduki dan mereka jajah.

Semua ini memberikan sinyal sebuah kenyataan yang selama ini membuat kaum Muslim tidak sadar dan tersesatkan, yaitu bahwa negara-negara ini tidak mampu untuk menghadapi kaum Muslim di setiap medan perang; dan sekiranya tidak ada pengkhianatan yang dilakukan oleh para penguasa kaum Muslim, dan persekongkolan mereka yang memungkinkan kaum kafir dapat mencekik leher kaum Muslim, memberikan kekayaan dan negeri-negeri kaum Muslim sebagai santapan lezat bagi kaum kafir penjajah, niscaya mereka tidak akan berani terhadap kaum Muslim, dan mereka juga tidak akan bermimpi untuk mengambil kekayaannya.

Di sisi lain, berita itu memperlihatkan sampai sejauh mana ketundukan negara-negara Barat kepada Amerika dan kebijakannya; dan berikutnya berita itu berisi pesan lain bagi semua rakyat negara Barat bahwa meski mereka tidak suka, mereka sedang dibawa ke tempat-tempat pemotongan hewan untuk melakukan pembantaian demi kepentingan sang tuan Amerika, yang lebih mementingkan manfaat dan keuntungan untuk dirinya sendiri, sementara ia menuntut para “sekutunya” agar menanggung sendiri denda dan kerugiannya.

Sesungguhnya kejadian seperti ini tidak akan pernah tejadi, tidak dalam sejarah, tidak di masa sekarang, dan tidak pula di masa yang akan datang, seandainya orang yang diduduki wilayahnya itu bukan kaum Muslim; dan seandainya mereka bukan orang yang memiliki tekad dan semangat yang kuat, yang tidak lapuk termakan waktu, dan tidak musnah oleh angin, gempa bumi, atau badai.

Sesungguhnya, kaum Muslim menyimpan kekuatan besar sekiranya dimanfaatkan dengan benar, dan digunakan sebagaimana mestinya dalam naungan negara yang memimpin mereka secara jujur dan ikhlas, serta mengarahkan mereka menuju penaklukkan berbagai daerah, penyebaran hidayah dan kebaikan (Islam) ke seluruh penjuru dunia, niscaya kaum Muslim merupakan barisan manusia terdepan; mereka akan kembali menjadi pasukan yang tidak terkalahkan; dan pemimpin mereka akan kembali berbicara kepada awan: “Pergilah ke mana Anda ingin, sebab kembalimu pasti kepada saya.” Dan menjadikan kaum Muslim memahami kembali konsep “bangsa terbaik yang dibangkitkan untuk umat manusia.”

Untuk saat-saat seperti itu, kita membangun kekuatan; dan untuk tujuan baik seperti itu, kita berusaha mewujudkan; dan hanya untuk semua itu, orang-orang yang jujur dan ikhlas pekerja dan beraktivitas. (pal.tahrir.info, 17/10/2009)

»»  read more

Sabtu, 12 September 2009

Serangan Udara AS Membunuh Kegembiraan Ramadhan di Waziristan

Setiap Ramadhan, Behroz Gul dahulunya biasa mengadakan acara berbuka puasa (ifthar) untuk ratusan orang miskin pada sebuah masjid lokal di Shakai di Waziristan Selatan.

Tapi tahun ini, para tetua suku Pakistan sendiri menjadi tergantung pada makanan yang ditawarkan oleh dermawan setempat untuk memberi makan keluarganya.

“Biar aku mengakui bahwa ada perbedaan besar antara tahun lalu dan tahun ini pada bulan Ramadhan,” Gul (45 tahun), mengatakan kepada IslamOnline.net pada Jumat kemarin (11/9).

“Tahun lalu, saya adalah orang yang memberi perbukaan, namun pada tahun ini sayalah yang mengambil dan menerima perbukaan dari orang lain.”

Gul, yang memiliki pompa bensin di Shakai, harus antrian dengan ribuan suku yang bermigrasi dari wilayah mereka karena serangan tak henti-hentinya dari pasukan AS, hanya untuk mendapatkan makanan yang ditawarkan oleh para dermawan setempat di Tank, sebelah distrik Waziristan Selatan.

Saya tidak bisa membendung air mata saya ketika saya memikirkan tahun-tahun yang lalu ketika saya bisa mengadakan acara ifthar sehari-hari untuk beberapa orang miskin selama bulan Ramadhan sampai Ramadhan tahun lalu.

“Tapi sekarang, saya harus mengantri untuk mendapatkan makanan untuk berbuka puasa,” kata ayah dari lima orang anak, yang telah tinggal di kamp penampungan di Tank selama sepuluh bulan.

AS meluncurkan serangan tak henti-hentinya di Waziristan Utara dan Selatan, menyerang kubu dari mujahidin Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), yang merupakan organisasi payung dari berbagai kelompok Taliban di Pakistan.

Washington telah meluncurkan kali serangan di Waziristan Utara dan Selatan tahun lalu, menewaskan lebih dari 1.200 Warga Pakistan, termasuk 16 Taliban dan pemimpin-Qaeda.

“Mereka (AS) tidak peduli,siapa yang dibunuh,” kata Gul.

“Mereka hanya melihat upacara atau kerumunan orang, dan langsung menembakkan rudal ke arah-arah orang-orang yang tidak bersalah.

Behroz menyesalkan bahwa serangan membabi-buta AS telah menewaskan banyak orang yang sedang bersukacita pada bulan puasa suci Waziristan.

“Tidak mudah untuk menjelaskan rasa takut kami, ketika Anda melihat sebuah pesawat tempur melayang-layang di atas desa. Kami tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berdoa untuk keselamatan kami.

“Ini seperti anda mati setiap hari, Karena tidak ada jaminan bahwa anda akan aman pada waktu yang lain,” katanya.

“Hal ini tidak dapat disamakan bagi mereka yang memiliki keluarga dan teman-teman selama bulan Ramadhan dan` Idul Fitri. Saya punya keluarga dekat dengan saya saat ini, tapi saya tidak tahu tentang banyak teman-teman saya, dan bahkan banyak sanak keluarga yang telah pindah ke lokasi yang berbeda untuk menyelamatkan nyawa mereka dari serangan berterusan yang dilakukan pesawat temur AS.

“` Idul Fitri ini sudah semakin mendekat, tapi saya tidak punya uang , bahkan untuk membeli baju baru untuk anak-anak saya. Saya telah meninggalkan semuanya, pompa bensin milik saya, rumah, tanah, saya hanya dapat berharap pada belas kasihan Allah, untuk menyelamatkan saya dan keluarga saya supaya tetap hidup. ”

Dilfaraz Khan mengatakan bahwa rasa takut serangan misil dari pesawat tempur telah menguasai perasaan warga selama bulan Ramadhan ini.

“Seluruh waktu dari fajar hingga senja berlalu penuh dengan rasa ketakutan,” kata Khan, seorang penduduk Mir Ali, kepada IOL.

“Kami terus melihat di langit kapan dan di mana suara gemuruh pesawat tempur muncul dan menghujani kami dengan bom kami.”

Serangan udara pesawat tempur AS telah menewaskan ratusan orang, termasuk enam pemimpin Taliban, di Mir Ali tahun lalu. Takut serangan seperti kejadian di Mir Ali kembali terjadi telah memaksa banyak penduduk untuk membatalkan tradisi mereka mengadakan perjamuan buka puasa bagi masyarakat miskin selama bulan Ramadhan.

“Kami dulu punya kebiasaan berbuka puasa bersama keluarga kami dan beberapa teman-teman di masjid-masjid dan tempat-tempat pertemuan lain,” kata Dilfaraz, seroang petani setempat.

“Tetapi sekarang ini, kita bahkan tidak sempat berpikir tentang hal itu.

“Anda tidak pernah tahu kapan sebuah serangan muncul dan rudal membakar Anda, tidak peduli Anda sedang melaksanakan ifthar atau sedang menyusun rencana teroris,” katanya.

Dilfaraz, seperti banyak penduduk Mir Ali, juga takut untuk melaksanakan sholat Tarawih Karena takut serangan pesawat tempur yang tiba-tiba.

“Saya minta maaf untuk harus mengakui bahwa memang serangan AS tidak pandang bulu bahkan masjid-masjidpun diserang,” katanya.

Dilfaraz mengatakan bahwa meskipun serangan telah membunuh beberapa pemimpin Taliban, tetapi mereka secara tidak langsung menciptakan banyak lagi para pemimpin Taliban.

“Mereka yang mendukung serangan dengung tidak tahu tentang kesengsaraan kita,” katanya.

Baitullah Mehsud pemimpin Taliban syahid dalam sebuah serangan udara AS pada 5 Agustus lalu di Waziristan Selatan.

“Saya setuju bahwa salah satunya Baitullah Mehsud, dan beberapa militan lainnya syahid dalam serangan udara ini, tetapi hal itu dapat membenarkan kematian ratusan warga sipil,” tanya Dilfaraz.

“Mereka telah membunuh satu Baitullah Mehsud, dan menciptakan ratusan lagi Baitullah-Baitullah Mehsud yang lain.” (eramuslim.com, 12/9/2009)

»»  read more

Tentara Amerika Tewas, Sebaliknya Spanyol Akan Menambah Jumlah Pasukannya di Afghanistan

NATO mengatakan pada hari Jumat (11/9) bahwa tentara Amerika tewas pada hari Kamis (10/9) dalam sebuah serangan oleh gerakan Islam Taliban di timur Afghanistan, sementara Spanyol setuju untuk mengirimkan pasukan tambahan ke Afghanistan sebagai jawaban atas permintaan Amerika Serikat untuk meningkatkan kekuatan pasukan dalam menghadapi Taliban.

Menurut kantor berita “France Presse” jumlah tentara Amerika yang tewas sejak awal tahun mencapai 191 orang tentara, sedang jumlah tentara pendudukan yang tewas sejak awal tahun di Afghanistan mencapai 332 orang tentara.

Sehingga, tahun 2009 ini merupakan tahun yang paling mematikan bagi pasukan internasional sejak pendudukan terhadap negara ini pada tahun 2001. Bulan Agustus juga merupakan bulan paling mematikan bagi pasukan pendudukan setelah tewasnya 77 orang tentara sepanjang bulan tersebut.

Sementara di lain pihak, Maria Teresa Fernandez, Wakil Perdana Menteri Spanyol mengatakan bahwa setelah rapat kabinet pada hari Jumat, negaranya telah setuju untuk mengirim pasukan tambahan ke Afghanistan sebagai jawaban atas permintaan Amerika Serikat untuk meningkatkan kekuatan pasukan dalam menghadapi Taliban.

Menurut kantor berita “Reuters” jumlah pasukan Spanyol di sana bertambah sekitar seribu tentara, tidak termasuk kontingen dari 450 tentara yang telah dikirim sebelum pemilihan umum yang berlangsung pada 20 Agustus lalu.

Dan telah diputuskan untuk menambah jumlah pasukan yang pimpinan oleh Amerika Serikat di Afghanistan menjadi sekitar 110 ribu pasukan pada akhir tahun, ini naik dari jumlah pasukan yang ada sekarang, yaitu sebesar 103 ribu pasukan. (mediaumat.com)

»»  read more

Rabu, 09 September 2009

Muslim Uighur Cina Dilarang Berpuasa Selama Ramadhan

Pihak berwenang Cina di Provinsi Xinjiang telah mengeluarkan pengumuman bahwa setiap warga atau pekerja Uighur apabila ditemukan tidak makan siang selama bulan Ramadhan bisa kehilangan pekerjaan mereka.

Ini adalah bagian dari kampanye pemerintah daerah di Xinjiang, tempat kelompok etnis muslim Uighur , untuk memaksa orang-orang Uighur untuk tidak melakukan ritual keagamaan mereka selama bulan puasa Ramadan.

Ramadhan adalah bulan suci dalam kalender Islam, yang dimulai tahun ini pada 22 Agustus. Di bulan ini seorang muslim tidak boleh makan pada siang hari.

“Gratis makan siang, teh, dan kopi-itulah yang disebut otoritas Xinjiang sebagai ‘Layanan dari pemerintah’ atau ‘Tunjangan Hidup’-sedang ditawarkan di departemen pemerintah dan perusahaan.Tetapi sebenarnya merupakan siasat yang digunakan untuk mencari tahu siapa yang sedang berpuasa, “kata Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uighur Dunia, berbicara kepada The Epoch Times.

Menurut Dilxat, seluruh kader Partai Komunis Uighur di Xinjiang telah dipaksa untuk menandatangani “surat tanggung jawab” yang menjanjikan untuk menghindari puasa dan kegiatan keagamaan lainnya. Mereka juga bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan di daerah mereka, dan mendapat hukuman jika di daerah ini ada yang berpuasa.

Untuk pertama kalinya, Dilxat mengatakan, tindakan keras telah diperlakukan terhadap pensiunan anggota Partai Komunis. Kader sekarang diminta untuk mengunjungi mereka untuk mencegah mereka ikut berpuasa. Kalau ada yang melanggar larangan tersebut, para pemimpin lokal akan bertanggung jawab dan dihukum berat, katanya.

Pemilik restoran muslim dipaksa untuk menandatangani dokumen untuk tetap buka dan terus menjual alkohol selama bulan Ramadhan atau lisensi yang mereka miliki dicabut, katanya.

Warga Uyghur ditangkap selama kerusuhan Juli di Urumqi mereka juga dilarang untuk berpuasa; orang-orang yang bersikeras memaksa puasa akan makan makanan dan air sementara penghinaan abadi kenakalan mereka, katanya dalam wawancara.

Imam di masjid juga dipaksa untuk berkhutbah kepada orang lain bahwa puasa adalah “kegiatan feodal” dan berbahaya bagi kesehatan, kata Dilxat. Jika tidak, sertifikasi agama mereka akan dibatalkan.

Ketika ditanya mengenai pemimpin Partai Komunis Cina (PKC) Hu Jintao yang baru-baru ini berkunjung ke Xinjiang, Dilxat berkata: “situasi Xinjiang belum kembali normal”. Alih-alih menyururh kepada orang-orang Han lokal untuk menghormati agama dan kebudayaan orang-orang Uighur, Hu malah mendorong penggunaan pasukan militer untuk menekan dan lebih membatasi kebebasan beragama kita. Rezim komunis sering berbicara tentang ‘menjaga stabilitas, “tapi apa yang mereka lakukan adalah selalu berbeda dari apa yang mereka katakan. Mereka sebenarnya orang-orang yang sedang menghancurkan stabilitas.

Seorang wartawan Epoch Times menghubungi PKC Komisi Urusan Etnis Negara untuk melihat apakah pelarangan yang diklaim oleh Dilxat adalah benar, atau apa kebijakan resmi pada Ramadhan. Kontak media tidak menjawab pertanyaan, malahan memberi dua nomer di Xinjiang bahwa ia mengatakan wartawan akan bisa menghubungi untuk mengetahui lebih lanjut. Kedua nomer tersebut terus-menerus sibuk, dan ketika wartawan menghubungi Komisi Negara Urusan Etnis kembali, orang itu menutup telepon. (epochtimes, 1/9/2009)

»»  read more

India Khawatir atas Semakin Tumbuhnya Arsenal Senjata Nuklir Pakistan

Kepala Staf Angkatan Darat India Jenderal Deepak Kapoor mengatakan pada hari Rabu bahwa Pakistan akan melampaui kepemilikan nuklirnya hanya untuk senjata pencegah setelah adanya bahwa Islamabad telah meningkatkan persenjataan nuklir dan sedang berusaha untuk menambahkan rudal jelajahnya. “Ada peningkatan derajat tertentu atas senjata pencegahan dan angka 70-90 hulu ledak nuklir yang diarahkan terhadap suatu negara jelas melampaui konsep pencegahan,” kata Kapoor di kota India barat, Pune. “Hal ini menjadi keprihatinan bagi kami,” tambahnya. Jenderal Kapoor memberikan komentar atas sebuah artikel yang diterbitkan dalam Buletin Atomic Scientist tentang senjata nuklir yang disempurnakan oleh negara tetangga Pakistan. “Sebuah senjata rudal antar benua nuklir berkemampuan sedang disiapkan penyebarannya, dan dua senjata nuklir berkemampuan rudal jelajah sedang dalam pengembangan. Dua reaktor produksi plutonium yang baru dan sebuah fasilitas pemisahan kimia kedua juga sedang dalam pembangunan,” kata jurnal AS itu.

Apa gunanya punya senjata nuklir jika kepemimpinan Pakistan tidak siap untuk menggunakannya untuk mempertahankan diri dari arus serangan Amerika-India. Jika Korea Utara dan Iran saja dapat secara efektif menggunakan senjata nuklir dan program nuklir untuk melawan Amerika maka apa yang mencegah Pakistan untuk melakukan hal serupa untuk melindungi penduduk dan integritasnya?. (Khilafah.com, 7/9/2009)

»»  read more

Minggu, 06 September 2009

Amerika The Real Terrorist : NATO Bunuh 100 Orang Sipil Afghanistan

Lebih dari seratus orang, sebagian besar warga sipil, telah dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya terluka setelah pesawat-pesawat tempur pimpinan AS menyerang tanker bahan bakar di wilayah utara afghanistan

Pada hari Jumat (4/9), NATO membenarkan insiden mematikan di provinsi Kunduz, menandakan bahwa serangan udara itu ditargetkan ke dua tangki bahan bakar yang diduga dibajak oleh militan Taliban.

Beberapa laporan yang belum dikonfirmasi, menduga bahwa lebih dari seratus orang telah tewas dalam ledakan yang disebabkan oleh serangan tersebut.

Gubernur provinsi Kunduz, Mohammad Omar, mengkhawatirkan jumlah korban tewas bisa mencapai 90 orang.

Kepala polisi distrik Ali Abad di provinsi Kunduz utara mengatakan puluhan orang tewas dalam pemboman mematikan yang mengguncang wilayah disertai ledakan besar.

“Tanker bahan bakar terjebak di sungai. Ada warga sipil setempat dengan mereka juga. Orang Taliban dibom,” kata kepala polisi.

Saksi mata mengatakan bahwa ratusan orang terluka dengan luka bakar yang mengerikan telah memenuhi sebuah rumah sakit di kota Kunduz, ibukota provinsi di Northern Propinsi.

Lebih dari 140 warga sipil Afghanistan tewas dalam serangkaian Serangan udara AS di propinsi Farah barat pada awal Mei.

Warga sipil telah menjadi korban utama kekerasan di Afghanistan, khususnya di selatan dan timur provinsi bermasalah.

Lebih dari 1.000 warga sipil telah kehilangan nyawa mereka baik dalam serangan udara AS atau dalam pemberontakan yang dipimpin Taliban dalam 6 bulan pertama tahun ini, menurut laporan PBB.

PBB juga melihat bahwa jumlah warga sipil tewas dalam konflik di Afghanistan telah melonjak 24 persen sejauh tahun ini.

Terdapat lebih dari 101.000 tentara AS di Afghanistan. PBB telah memperingatkan bahwa penambahan jumlah pasukan Amerika di Afghanistan bisa berarti korban nyawa bertambah lebih banyak di negara yang dilanda perang.

Serangan udara AS telah menewaskan ratusan warga sipil di Afghanistan selama beberapa bulan terakhir.

Korban sipil yang banyak telah memicu kemarahan publik dan merupakan topik yang diperdebatkan antara Kabul dan Washington. (presstv, 4/9/2009)

»»  read more

Rabu, 02 September 2009

Taliban Mengalahkan Amerika dan NATO di Afghanistan

Letnan Jenderal Stanley McChrystal, Komandan Tentara Amerika Serikat dan NATO di Afghanistan menegaskan bahwa pasukan koalisi kalah dan tidak berdaya di hadapan Taliban, di mana koalisi hingga kini belum mampu juga mencapai tujuan yang ditetapkan oleh rencana strategis yang “salah” itu, yang dibuat sepuluh tahun yang lalu.

Oleh karena itu, Jenderal McChrystal tidak melihat kemungkinan untuk bisa “mencapai kemenangan” di Afghanistan kecuali jika pasukan koalisi meninjau kembali strateginya terkait perang di Afghanistan.

Jenderal Amerika itu mencatat bahwa pasukan Afghanistan saat ini sudah tidak mampu lagi melawan pasukan “Taliban”, padahal ini dituntut untuk mengalahkannya.

Jenderal Amerika itu berpendapat perlunya berpikir tentang perubahan kepemimpinan di Afghanistan, jika Presiden Karzai yang berkuasa saat ini tidak berhasil dalam menyiapkan militer Afghanistan untuk melawan Taliban sendirian selama periode ini.

Sementara, seorang analis asal Amerika, Stephen Biddle menemukan bahwa pemerintah Afghanistan saat ini sudah tidak layak untuk dipertahankan. Menurutnya, pemerintahan hanya bergantung dengan kehadiran Amerika di Afghanistan.

Hasil pemilihan presiden Afghanistan baru-baru ini memperlihatkan bahwa popularitas Hamid Karzai turun cukup tajam. Dengan demikian, menurut beberapa analis, perpanjangan mandat pemerintah dapat menempatkan Afghanistan di ambang perang saudara yang baru. (mediaumat.com, 02/09/2009)

»»  read more

Selasa, 01 September 2009

Islam Menjadi Materi Pelajaran Wajib di Sekolah-sekolah Sekuler Tajikistan

Para siswa di Tajikistan dalam waktu dekat akan mempelajari materi agama Islam. Dan hal ini merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di sekolah mereka.

Di antara keputusan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya adalah memasukkan materi “ilmu Islam” sebagai pelajaran wajib, sehingga para siswa akan belajar materi agama Islam, meski hanya satu jam saja dalam satu minggunya.

Ini dianggap sebagai langkah pertama untuk belajar agama Islam di wilayah Asia Tengah, yaitu sebuah wilayah yang terdiri dari negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, namun mempertahankan pendidikan sekuler sejak jatuhnya Uni Soviet.

Dalam hal ini terdapat silang pendapat yang tajam dalam internal Tajikistan antara para pejabat pemerintah dan ulama Muslim tentang siapa yang harus mengajarkan materi pelajaran baru ini, dan apa yang harus dilakukan agar pengajaran berjalan dengan tepat.

Buku pelajaran baru tentang materi “ilmu Islam” ini pada bagian pertama terdiri dari empat bagian: sejarah Islam, prinsip-prinsip Islam, sikap Islam terhadap sains dan pengetahuan, dan peran Islam dalam masyarakat Tajikistan sejak runtuhnya Uni Soviet.

Radio Tajikistan melaporkan bahwa sekitar 400 guru sejarah dan sastra Tajikistan telah menerima pelatihan khusus sejak bulan April lalu guna mempersiapkan mereka untuk mengajarkan materi pelajaran baru ini. Menurut Kementerian Pendidikan dan Budaya bahwa ini adalah konsisten dengan aturan yang hanya memperkerjakan para guru yang berkualitas di semua sekolah.

Otoritas Tajikistan dalam beberapa tahun terakhir telah mengambil sikap yang keras terhadap lembaga-lembaga keagamaan. Di mana polisi telah melakukan penggerebekan puluhan sekolah agama di tengah tuduhan bahwa sekolah-sekolah tersebut mengajarkan ide-ide ekstrim.

Perlu untuk diketahui bahwa di Tajikistan jilbab justru menjadi pakaian yang sangat populer (digemari) di antara para gadis setelah Departemen Pendidikan dan Budaya melarang pemakaian jilbab di sekolah-sekolah, karena dinilainya sebagai simbol “bagi budaya asing”, tentu dalam anggapan mereka kaum sekuler. Begitu juga, pemerintah Tajikistan telah melakukan penutupan ratusan masjid yang dinilainya ilegal. Namun tindakan arogan pemerintah ini telah memicu timbulnya reaksi keras dan kemarahan dari para ulama. (mediaumat.com, 01/09/2009)

»»  read more

Keluarga Muslim India Diusir Keluar Desa

Sedikitnya 100 anggota masyarakat minoritas - termasuk wanita dan anak-anak - diduga telah dipaksa untuk pindah dari di desa Kharvada distrik Mehsana Taluka Visnagar oleh orang-orang Chaudharis, masyarakat utama di sana, karena masalah lahan untuk kuburan.

Mereka telah tinggal dengan kerabat mereka di Badarpur, Kesimpa dan Vadnagar dalam jarak radius 10 km dari rumah mereka dan pertanian sejak Senin lalu.

Empat di antaranya - Momin Mehboob Habibbhai, Momin Haidarali Habibbhai, Momin Ahamdbhai Valibhai dan Momin Mohamad Husain Rahimbhai - menulis surat kepada Presiden India Pratibha Patil pada 28 Agustus menjelaskan keadaan di mana mereka dipaksa untuk meninggalkan desa mereka. Salinan surat juga telah dikirim ke Komisi Hak Asasi Manusia Nasional India, Direktur Jenderal Polisi, Gujarat, DIG, Gandhinagar Range, kepala distrik Mehsana serta Komisi Minoritas India.

Surat tuntutan keadilan tersebut menceritakan bahwa sejak mereka meminta sebidang tanah dari pemerintah negara bagian untuk sebuah lahan kuburan, mereka diasingkan oleh orang-oarang Chaudharis di desanya. “Saat ini, kami hidup dengan saudara-saudara kita di Badarpur, Kesimpa dan Vadangar,” kata Rahim Chacha yang berusia 70 tahun.

“Tidak lama setelah permintaan untuk lahan pemakaman pada prinsipnya disetujui oleh pemerintah, pembatasan diletakkan pada semua kegiatan keagamaan oleh para penduduk desa. Kami dilarang melakukan aktivitas ibadah dan mengajar sejarah Islam di madrasah. Para anggota Momin Shiya Jamat diancam jika mereka tetap bertahan untuk tinggal di desa Kharvada. Akhirnya, kami berangkat pada hari Senin lalu meninggalkan rumah kita, tanah pertanian dan properti lainnya, “kata Haidarali Habibbhai.

Kepala dsitrik Mehsana Ajay Bhadu mengatakan permintaan masyarakat untuk lahan kuburan masih dalam proses di desa Panchayat. Usaha sedang dilakukan membujuk warga Panchayat untuk mengambil keputusan dan memilah-milah perbedaan antara kedua komunitas. (kf/indiatimes)
»»  read more

Jumat, 28 Agustus 2009

Misionaris Kristen dari Korsel Akan Dikendalikan

SEOUL–Korea Selatan merupakan negara yang diyakini sebagai sumber misionaris Kristen terbesar kedua di dunia setelah AS, yang memiliki sekitar 46.000 misionaris di seluruh dunia. Lebih dari 80 misionaris telah diusir dari negara-negara Muslim dalam dua bulan terakhir.

“Sejak bulan Juli, belasan warga Korea Selatan telah ditahan karena tuduhan terlibat dalam aktivitas misionaris di Iran, Yordania, Yaman, dan negara-negara lainnya, terutama negara-negara konflik seperti Afghanistan,” kata pihak berwenang negara ini.

Awal bulan Agustus ini, Iran mendeportasi empat warga Korea Selatan dan keluarganya karena terlibat aktivitas misionaris. Teheran mengajukan komplain ke Korea Selatan bahwa mereka juga telah diusir tahun lalu untuk alasan yang sama.

Bulan Juni lalu, seorang sukarelawan wanita Kristen dari Korea Selatan diculik dan dibunuh di Yaman.

Di bulan Maret, empat warga Korea Selatan, yang dituduh mencoba mengKristenkan penduduk Muslim Yaman, tewas dalam sebuah bom bunuh diri.

Tahun 2007, 23 sukarelawan Kristen Korea Selatan di Afghanistan diculik, dua dari mereka akhirnya dibunuh. Yang lainnya dibebaskan setelah tercapai kesepakatan antara Seoul dengan pihak penculik.

Pemerintah Korea Selatan berjanji akan mengendalikan warga Kristennya yang melakukan aktivitas misionaris kontroversial di negara-negara Muslim.

Pihak yang berwenang mengatakan pemerintah mungkin akan menerapkan larangan atas misionaris Kristen, termasuk melarang mereka yang pernah dideportasi karena melakukan misionaris di Timur Tengah untuk memasuki negara-negara itu lagi.

“Kementerian luar negeri sedang mempertimbangkan berbagai cara untuk mengatur perjalanan ke luar oleh orang-orang yang mungkin akan melanggar hukum setempat di negara Muslim,” ujar juru bicara pemerintah Moon Tae-Young kepada Agence France Presse (AFP), Kamis, (27/8) seperti dilaporkan IOL.

Menurut data statistik resmi, terdapat sekitar 17.000 misionaris Korea Selatan yang ditugaskan ke 173 negara. Namun, media-media, seperti BBC dan New York Times memperkirakan bahwa angka sebenarnya jauh lebih besar.

Pemerintah mengatakan kegiatan misionaris ini bertentangan dengan sentimen lokal di negara-negara Muslim, di mana mengkristenkan orang sangat dilarang dan merupakan sebuah penghinaan. Pemerintah khawatir kegiatan misionaris dapat memicu serangan teror tidak hanya terhadap para misionaris tapi juga wisatawan atau pebisnis biasa Korea.

“Beberapa negara mengajukan protes kepada pemerintah kita melalui jalur diplomatik, dan karena itu tidak hanya misionaris tapi wisatawan biasa juga dapat menjadi target teroris,” ujar juru bicara pemerintah memperingatkan.

“Kami sedang melakukan yang terbaik untuk tidak melanggar hak-hak konstitusional, namun kami tidak dapat menghindari untuk membatasi beberapa hak demi keselamatan semua warga Korea”. (Republika online, 28/8/2009)

»»  read more

Sabtu, 15 Agustus 2009

Tujuh Tentara AS dan Inggris Tewas dalam Waktu 48 Jam di Afghanistan

Pejabat Tinggi North Atlantic Treaty Organization (NATO) mengakui tentang tewasnya tujuh tentara dalam waktu empat puluh delapan jam di Afghanistan. Empat di antaranya adalah tentara Amerika Serikat, sedang yang tiga lagi adalah tentara Inggris. Sehingga jumlah tentara NATO yang tewas di Afghanistan dalam minggu pertama bulah ini (Agustus) bertambah menjadi 18 tentara.

Menurut statistik resmi yang dikeluarkan baru-baru ini bahwa jumlah tentara Amerika dan pasukan koalisi di Afghanistan yang tewas dalam enam bulan terakhir jumlahnya lebih besar daripada jumlah tentara Amerika dan NATO yang tewas sejak awal invasi sampai bulan Maret yang lalu.

Ini berarti bahwa jumlah pasukan pendudukan yang tewas di Afghanistan selama beberapa bulan yang lalu melampaui jumlah tentara pendudukan yang selama delapan tahun. Arti dari semua ini adalah betapa besarnya kerugian yang diderita oleh pasukan pendudukan di tangan para mujahid Afghanistan di antara gerakan Taliban. (al-aqsa.org, 13/08/2009)

»»  read more

Kamis, 13 Agustus 2009

The Real Terrorist Amerika Serikat Tewaskan Lima Petani Afghanistan

HTI-Press.Negara teroris Amerika Serikat kembali membunuh rakyat sipil Afghanistan. Kali ini yang menjadi korbannya adalah petani. Seperti yang dilaporkan Republika online (06/08), serangan udara yang dilancarkan pasukan Barat di Afghanistan Selatan menewaskan lima petani. Demikian diungkapkan seorang kepala Kepolisian lokal. Para petani tersebut tengah memuat hasil panen mereka, mentimun, ke dalam sebuah taksi. Sementara seorang juru bicara militer AS mengatakan kelima orang tersebut adalah anggota kelompok militan yang sedang memasang bom pada sebuah mobil van.

Kepala Kepolisian wilayah tersebut, Niaz Mohammad Sarhadi, mengatakan serangan udara menewaskan kelima petani pada pukul 11.30 malam, Rabu. Mereka akan membawa hasil panen dari daerah pinggiran Zhari ke kota Kandahar.

Seperti biasa, AS sekedar berjanji untuk mengusut , tanpa ada tindakan yang jelas dan tegas terhadap pasukannya . Juru Bicara Militer AS, Letnan Christine Sidenstricker, mengatakan pihaknya percaya kelima orang tersebut mengangkut bahan peledak. Ia mengatakan AS akan mengevaluasi rekaman dari helikopter tempur Apache untuk mencari tahu apa yang terjadi.Sebelumnya pejabat militer AS menyatakan tidak mungkin menghukum prajurit yang membunuh rakyat sipil.

Sudah ribuan rakyat sipil yang terbunuh dalam serangan AS. korban akibat serangan militer AS, sejak tahun 2008 itu, jumlahnya terus meningkat secara tajam. Kondisinya terus memburuk. Korban dari rakyat sipil, sejak invasi AS ke Afghanistan itu, jumlahnya mencapai 2.118 warga sipil. Jumlah ini meningkat 40 persen. Sebelumnya, di tahun 2008, yang lalu, jumlah korban 828 yang tewas.

Serangan ini kembali membuktikan bahwa AS adalah the real terrorist dengan korban rakyat sipil yang terus bertambah. Ironisnya, tidak ada penguasa negeri Islam, pengamat teroris, yang mengecam pembunuhan yang dilakukan negara imperialis ini terhadap umat Islam. Media pun jarang mengecam pembunuhan massal ini. Umat Islam memang membutuhkan Khilafah yang melindungi umat Islam dari tindakan brutal penjajah kafir. (FW)

»»  read more

Rabu, 12 Agustus 2009

Surat Dari Prajurit Inggris Menegaskan Kekalahan di Afghanistan

Surat kabar “The Independent” pada Selasa (11/08) mempublikasikan surat dari salah seorang prajurit Inggris di Afghanistan. Ia menggambarkan fakta yang begitu mengejutkan mengenai penderitaan mereka, bahwa fakta itu sebagai hal yang memuakkan.

Prajurit yang tidak disebutkan namanya oleh surat kabar itu mengatakan bahwa kesulitan kehidupan di Afghanistan, baik kesedihan kehilangan sahabat, frustrasi akibat kurangnya peralatan, atau perasaan bahwa perang sepertinya tanpa akhir.

Dia menambahkan di awal suratnya bahwa motif di balik upaya untuk menulis surat yang sederhana ini adalah ungkapan sebagian kecil kekecewaan yang dirasakan oleh beberapa warga Inggris yang mengabdi di Afghanistan, di mana kematian dan kecelakaan terjadi secara rutin sehingga menjadi sesuati yang memuakkan.

Ia mengatakan bahwa dalam konteks ini adalah cedera yang menyebabkan bagian anggota tubuh harus diamputasi, bahkan dalam beberapa kasus ada yang diamputasi hingga tiga kali, sehingga dia bertanya-tanya tentang dampaknya terhadap kehidupan prajurit itu sendiri dan keluarganya.

Surat kabar The Washington Post sebelumnya telah melaporkan bahwa pemerintah Amerika Serikat sedang mempelajari faktor yang menyebabkan para prajuritnya melakukan bunuh diri di Irak dan Afghanistan. Dijelaskan bahwa pemerintah sedang melakukan berbagai penelitian dan kajian terkait faktor-faktor di balik fenomena peningkatan bunuh diri oleh tentara Amerika baru-baru ini di Irak dan Afghanistan.

Tahun 2008 telah terjadi 148 kasus bunuh diri oleh tentara AS. Dan meskipun telah berjalan hampir delapan tahun perang di Afghanistan, dan berhasil meruntuhkan rezim Taliban di sana, namun perang melawan Taliban menjadi lebih mematikan dalam beberapa bulan terakhir. Semua ini telah menambah kerugian pasukan Amerika dan NATO akhir-akhir ini. Di mana sekitar 75 prajurit tewas selama bulan Juli yang lalu. Sehingga ini menjadi bulan paling mematikan bagi pasukan internasional di Afghanistan, sejak dumulainnya invasi pada Oktober 2001. (mediaumat.com)

»»  read more

Selasa, 11 Agustus 2009

Tabligh Akbar Besar-besaran Diselenggarakan Oleh Syabab Hizbut Tahrir Di India

Tabligh Akbar besar-besaran diselenggarakan oleh syabab Hizbut Tahrir di India, tepatnya di kota “Bhopal”. Tabligh Akbar ini diselenggarakan untuk memprotes rencana pemerintah mengesahkan perundang-undangan yang membolehkan homoseksualitas di negeri ini.

Tabligh Akbar ini dihadiri oleh lebih dari 2.000 peserta, meskipun acara ini dilaksanakan di luar halaman masjid yang bersejarah dan terbesar di kota, dengan temperatur yang sangat tinggi.

Sedang di antara mereka yang hadir dalam Tabligh Akbar ini adalah para ulama, para hakim kota, dan berbagai organisasi yang menentang diberlakukannya perundang-undangan tersebut. (kantor berita HT, 10/8/2009)

»»  read more

Rabu, 29 Juli 2009

Pemimpin Uighur Mengkonfirmasi Kehilangan Sepuluh Ribuan Muslim Dalam Kerusuhan Terakhir

Pemimpin Uighur Mengkonfirmasi Kehilangan Sepuluh Ribuan Muslim Dalam Kerusuhan Terakhir

Rabiya Kadeer (pemimpin Muslim Uighur yang berada dalam pengasingan) mengkonfirmasikan pada hari Rabu, bahwa hampir sepuluh ribu orang hilang dalam satu malam selama kerusuhan yang terjadi di “Urumqi” provinsi “Xinjiang” awal Juli ini.

Dalam konferensi pers di Tokyo pada hari kedua dari kunjungannya ke Jepang, ia mempertanyakan dengan mengatakan: “Hampir sepuluh ribu orang di Urumqi lenyap dalam satu malam. Kemana mereka pergi? Jika mereka dibunuh, dimana mayat-mayat mereka?”

Kadeer, yang tinggal dalam pengasingan di Amerika Serikat, dan sedang melakukan Konferensi Dunia Bangsa Uighur yang dipusatkan di kota Munich, Jerman menuduh pemerintah China sedang berusaha menggenosida bangsa Uighur.

Dia menambahkan: “Bahwa yang paling bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini adalah pihak berwenang. Sebab, tindakan kekerasan yang dilakukannya telah mengubah demonstrasi yang berlangsung damai pada awalnya menjadi huru-hara kekerasan.” Dia juga menambahkan: “Bahwa penyerangan terhadap demonstrasi dalam pandangan bangsa Uighur berarti bunuh diri.”

Dia menyerukan masyarakat internasional untuk mengirim misi independen untuk melakukan penyelidikan guna mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dikatakan, jika Cina tetap mengatakan bahwa yang paling bertanggung jawab atas insiden itu adalah bangsa Uighur, maka bukalah wilayah itu dan biarkan Komisi melakukan penyelidikan tentang insiden sebenarnya.

Dikatakan bahwa pada tanggal 5 Juli telah terjadi bentrokan kekerasan antara kaum Muslim Uighur yang berbahasa Turki dengan suku “Han” di Urumqi, ibu kota provinsi Xinjiang, yang merupakan pemerintah otonom.

Kerusuhan itu telah mengakibatkan 197 orang meninggal, ini menurut pihak berwenang Cina. Sementara Konferensi Dunia Bangsa Uighur yang dipimpin oleh Kadeer mengkonfirmasikan bahwa jumlah korban meninggal mencapai ribuan jiwa. (MediaUmat.com)

»»  read more

Senin, 06 Juli 2009

Hizbut Tahrir Berusaha Mengubah Pakistan

Koran Sunday Times mengatakan bahwa kelompok yang digambarkan sebagai kelompok militan Islam Inggris bertekad untuk menumbangkan negara Pakistan.

Koran Inggris tersebut dalam edisinya hari ini (5/7) menambahkan bahwa para pengikut Hizbut Tahrir menyerukan untuk dilakukannya kup militer damai (tidak menumpahkan darah) di Islamabad dan kemudian menggantinya dengan mendirikan Daulah Khilafah.

Anggota organisasi yang menyebut dirinya dengan Hizbut Tahrir di Inggris, tetapi ia dilarang di Pakistan, akhir pekan lalu telah mengungkapkan tentang niat mereka untuk menjadikan Pakistan sebagai titik awal yang darinya akan dimulai pembentukan Pemerintahan Islam di seluruh dunia, seperti yang dikatakan oleh koran tersebut.

Sunday Times mengatakan bahwa ia mendapat puluhan nama orang Inggris yang menjadi aktivis Hizbut Tahrir, di antaranya ada yang tinggal di Lahore dan Karachi, atau berpindah-pindah antara Inggris dan Pakistan. Dan ia percaya bahwa masih ada banyak lagi yang lainnya.

Koran tersebut mengaaitkan dengan seorang yang bernama Thayyib Muqayyim—dikatakan bahwa ia seorang dosen bahasa Inggris di di kota Stoke-on-Trent Inggris—yang mengatakan bahwa ia pindah ke Lahore untuk meyakinkan orang-orang Pakistan agar mau bergabung dengan partainya.

Di Lahore, di sebuah Perguruan Tinggi, Muqayyim membentuk kelompok-kelompok halqah di antara para mahasiswa untuk mengkaji pemikiran dan metode Hizbut Tahrir. Dosen bahasa Inggris itu berkata bahwa tujuan kelompoknya adalah menundukkan negara-negara Islam dan Barat terhadap hukum-hukum Islam.

Juru bicara Hizbut Tahrir di Karachi, Shehzad Syaikh menjelaskan tentang keterlibatannya dalam usaha meyakinkan militer untuk melakukan revolusi damai guna menggulingkan pemerintah yang sekarang, yang menurutnya lebih buruk dibandingkan dengan Taliban.

Dan dalam hal ini, ia mengatakan bahwa militerlah sebenarnya yang saat ini berkuasa (di Pakistan), sehingga kami memintanya untuk memberikan loyalitasnya kepada Hizbut Tahrir.

Dan selanjutnya, “Saya tidak dapat menjelaskan secara rinci kepada Anda bagaimana kami berusaha untuk mempengaruhi militer…. Kami tidak mengungkapkan cara-cara kami yang telah kami upayakan untuk menciptakan perubahan …. Anda bisa saja menyebutnya dengan sebuah revolusi—namun tidak seperti yang dibayangkan banyak orang .” (aljazeera.net, 5/07/2009)

»»  read more

Followers